November 2022
Cerita ini berawal dari kebosanan masa remaja yang tak tertahankan. Riza, anak SMP yang gampang bosan dan suka cari sensasi sendirian, sampai suatu hari bertemu dengan seorang bernama Rizal di bawah jembatan. Rizal, dengan kemeja dikancing setengah, celana pendek pantai, dan sandal jepit, mengajak Riza ke Lapang Layang, tempat di mana kami dan anak-anak lain main layangan, gulat-gulatan ala Jackie Chan, sampai rebahan di atas mobil tua sambil bermimpi jadi raja dunia.
Dari sinilah petualangan "cari sensasi" dimulai. Riza dan Rizal melakukan ekspedisi absurd ke hutan dengan bekal tongkat sapu curian dan kompas rongsokan, tersesat karena Rizal cuma nebak arah pakai firasat, sampai akhirnya menemukan pemandangan indah yang bikin terdiam. Di puncak bukit, di tengah secangkir kopi panas, Rizal menyampaikan filosofi hidup yang tak terduga: bahwa hidup bukan hanya tentang kewajiban dan kebosanan, tapi juga tentang menikmati proses, menangis, tertawa, dan mencintai sebelum tirai merah ditutup.
Tapi seperti halnya sensasi, pertemanan itu juga tak abadi. Rizal pergi tanpa pamit, meninggalkan banyak pelajaran yang perlahan-lahan meleburkan rasa bosan Riza. Cerpen ini adalah bentuk penghormatan kecil untuk orang-orang aneh yang pernah lewat dan mengubah cara pandang, meskipun hanya sebentar.
"Cari Sensasi" adalah karya tulisan murni pertama saya yang serius, meskipun dibumbui dengan gaya bercerita yang agak liar dan iseng. Ini adalah proyek tugas ujian akhir untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas 3 SMA - mata pelajaran favorit saya, yang kebetulan diasuh oleh seorang ibu guru yang entah kenapa benci banget sama saya.
Cerpen ini lahir dari kebiasaan saya merayap di perpustakaan sekolah. Entah inspirasi datang dari mana, yang jelas, banyak ide-ide liar dan adegan random dalam cerita ini hasil dari bacaan-bacaan di sana. Ini adalah percobaan pertamaku untuk menulis narasi yang agak panjang dengan gaya bahasa sehari-hari, campuran antara serius, lucu kekanak-kanakan, dan absurd.
Yang bikin proyek ini spesial adalah karakter Rizal. Dia terinspirasi dari sosok nyata yang saya temui saat SMA, spesimen "orang aneh" yang sempat menjadi temanku untuk beberapa waktu. Namanya sendiri aku ambil dari inside jokes bersama teman-teman (Sohibs Mk.II), yaitu Rizal Fahmi - semacam saudara kembar fiktif yang sikapnya benar-benar bertolak belakang dengan saya. Layaknya yin dan yang. Singkatnya, ini adalah kenangan yang dibungkus dalam bentuk cerita fiksi yang (semoga) menghibur.